Beberapa penonton merasa “Breathless” bergerak lambat, terutama di bagian awal. Ini membuat film sering dibandingkan dengan gaya slow cinema, di mana kamera dibiarkan diam lebih lama dan adegan berlangsung nyaris real-time. Pertanyaannya: apakah pendekatan ini memang yang terbaik untuk menggambarkan trauma?
Slow cinema memberi ruang bagi penonton untuk mengamati detail kecil: tatapan kosong, tangan yang gemetar, atau cara tokoh utama menunda menjawab pertanyaan sederhana. Semua hal itu adalah bahasa tubuh yang menggambarkan luka batin. Ketika editing terlalu cepat, detail-detail seperti ini sering terpotong.
Di sisi lain, editing cepat punya fungsi sendiri. Dalam adegan panik atau kekerasan, cut yang rapat bisa menggambarkan kepingan memori yang terfragmentasi. Banyak film modern menggabungkan kedua gaya ini: lambat di bagian drama, cepat di momen ledakan emosi. “Breathless” condong ke arah lambat, dan pilihan itu membuat penonton merasakan beratnya setiap langkah karakter, bukan hanya melihat plot bergerak maju.
Leave a Reply